CIMAHI – Dunia lari maraton bukan sekadar soal garis finis bagi pasangan suami istri asal Baros, Cimahi, Bapak Surachman dan Ibu Nenny. Lebih dari sekadar olahraga, setiap langkah mereka di lintasan internasional adalah misi memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke mata dunia.
Dari Tembok Besar China hingga Piramida Giza
Baru saja kembali dari Mesir pada pertengahan Desember 2025 lalu, Pak Surachman sukses menaklukkan tantangan berat Pyramid Marathon di Padang Pasir Giza. Tak sendirian, sang istri, Ibu Nenny, setia mendampingi dengan menyelesaikan kategori 10K di lokasi yang sama.
Catatan perjalanan lari mereka sangat mengagumkan:
2024: Menaklukkan tanjakan terjal di Great Wall Marathon, Tembok Besar China.
2025: Berlari menembus malam di Vietnam dan menerjang pasir gurun di Mesir.
Total: Pak Surachman telah mengibarkan semangat lari di 20 negara berbeda.
Ibu Nenny: Sang "Duta Budaya" di Lintasan Lari
Ada yang unik setiap kali pasangan ini berlaga. Ibu Nenny, yang juga merupakan Ketua Tiara Kusuma DPC Kota Cimahi (wadah para ahli salon, rias, dan MUA), selalu tampil mencolok dengan busana daerah.
Koleksinya pun tidak main-main. Ibu Nenny disebut-sebut sebagai satu-satunya individu yang memiliki koleksi Baju Adat dari 37 Provinsi di Indonesia, mencakup pakaian anak-anak, dewasa, hingga baju pengantin. Keunikan ini membuahkan prestasi sebagai Juara Lari Kostum di Jepang.
"Ibu selalu mendampingi ke mana pun saya pergi. Jika saya lari 42 Km, Ibu ikut yang 10 Km. Kehadirannya adalah energi terbesar saya," ujar Pak Surachman dengan bangga.
Kisah pasangan dari Baros, Cimahi ini membuktikan bahwa usia dan jarak bukanlah halangan untuk tetap harmonis, sehat, dan terus mencintai budaya bangsa.
(Asep).
