Dibalik Megahnya Borobudur: Nestapa 13 Siswa SMP Cianjur yang Nekat 'Nge-BM' Demi Melihat Dunia


 MAGELANG, 5 Januari 2026 – Kemegahan Candi Borobudur sore ini menyimpan cerita haru sekaligus peringatan keras bagi dunia pendidikan Indonesia. Sebanyak 13 siswa SMP asal Cianjur Selatan, Jawa Barat, ditemukan terlantar dalam kondisi memprihatinkan setelah melakukan perjalanan nekat melintasi provinsi demi menuntaskan rasa penasaran mereka pada keajaiban dunia tersebut.

​Bertaruh Nyawa dengan 'Nge-BM' Selama Dua Hari

​Tanpa pendampingan orang dewasa dan bekal yang memadai, belasan remaja ini nekat mencegat truk dari satu kota ke kota lain (dikenal dengan istilah nge-BM). Perjalanan yang memakan waktu dua hari dua malam tersebut mereka tempuh demi satu tujuan: melihat langsung Candi Borobudur.

​Ironisnya, aksi nekat ini diduga dipicu oleh kebijakan pelarangan study tour di sekolah mereka. Keinginan belajar yang tinggi namun tak terfasilitasi membuat mereka memilih jalur berbahaya di jalanan raya.

​Lapar, Cedera, dan Terlantar

​Tokoh masyarakat sekaligus Ketua Umum LSM Penjara, Andi Halim, menjadi sosok yang pertama kali mengulurkan tangan saat menemukan mereka di kawasan Borobudur. Kondisi para siswa sangat menyayat hati:

​Kelelahan Fisik: Salah satu siswa ditemukan berjalan pincang akibat sepatu yang kekecilan selama perjalanan jauh.

​Kelaparan: Mereka mengaku belum menyentuh makanan seharian karena kehabisan bekal di tengah jalan.

​Tanpa Arah: Sesampainya di Magelang, mereka justru terjebak. Tidak ada truk yang bersedia memberi tumpangan untuk arah pulang, membuat mereka kebingungan di tanah orang.

​"Apapun latar belakang mereka, kita sebagai orang tua harus memiliki empati. Mereka masih di bawah umur dan butuh perlindungan," tegas Andi Halim saat mendampingi anak-anak tersebut di Mapolsek Borobudur.

​Respon Cepat: Estafet Kemanusiaan Menuju Cianjur

​Setelah Andi Halim berkoordinasi dengan layanan 110 dan Polsek Borobudur, sebuah rencana kepulangan disusun secara estafet. Pihak kepolisian memastikan keselamatan mereka dengan:

​Pengawalan ke Jalur Utama: Polsek Borobudur mengantar siswa ke titik aman.

​Koordinasi Tumpangan: Membantu mencarikan angkutan truk yang aman menuju Purworejo.

​Pengawalan Berantai: Polres Purworejo akan melanjutkan pengawalan hingga mencapai Banjar, kemudian diteruskan hingga mereka tiba di pelukan keluarga di Cianjur Selatan (SMPN Campaka dan Karang Tengah).

​Kritik Keras: Studi Tour Harusnya Disubsidi, Bukan Dilarang

​Menanggapi fenomena ini, Andi Halim memberikan catatan kritis kepada Pemerintah Daerah (Pemda). Menurutnya, larangan study tour tanpa solusi hanya akan melahirkan aksi-aksi nekat seperti ini.

​"Harapannya Pemda bisa memfasilitasi study tour menggunakan APBD. Daripada anggaran habis untuk kunjungan kerja yang hasilnya seringkali tidak jelas, lebih baik digunakan untuk subsidi pendidikan siswa," ujar Andi.

​Ia juga menekankan bahwa kebijakan pendidikan harus dipayungi oleh Peraturan Daerah (Perda) yang komprehensif, bukan sekadar instruksi lisan atau kebijakan yang membatasi hak siswa untuk melihat dunia luar secara aman.

​Pesan untuk Orang Tua:

Kejadian ini menjadi pengingat bagi setiap orang tua untuk memperketat pengawasan. Beruntung, perjalanan maut ini berakhir di tangan orang-orang baik. Namun, jalan raya bukanlah ruang kelas yang aman bagi anak-anak di bawah umur.

Lebih lengkap tonton video ini

https://vt.tiktok.com/ZS5U3HmKa/

(Red).

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Total Tayangan Halaman

REDAKSI

Fakta Realita News

youtube

Translate