CIANJUR, 5 Januari 2026 – Proses pemugaran situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara, Gunung Padang, kini resmi berjalan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) menegaskan bahwa fokus utama proyek ini adalah pelestarian dan edukasi, sekaligus memberikan klarifikasi tegas terkait isu "piramida" yang selama ini menyelimuti situs tersebut.
Fokus pada Fakta Arkeologis
Di tengah antusiasme publik, Pemprov Jabar melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kembali menekankan bahwa Gunung Padang adalah punden berundak, bukan piramida seperti yang sering diperdebatkan di media sosial.
"Kami ingin masyarakat melihat Gunung Padang apa adanya—sebagai mahakarya leluhur kita dalam bentuk punden berundak yang sangat canggih pada zamannya. Kami tegaskan ini bukan piramida buatan manusia seperti di Mesir," ujar perwakilan Pemprov Jabar dalam keterangannya hari ini.
Poin Utama Pemugaran Tahun 2026:
Konsolidasi Struktur: Memperkuat teras-teras batu yang mulai bergeser akibat faktor alam dan cuaca ekstrem.
Penataan Jalur Pengunjung: Membangun akses yang lebih ramah lingkungan untuk mencegah kerusakan pada struktur batuan asli.
Fasilitas Edukasi: Pengembangan pusat informasi yang akan menampilkan sejarah asli situs berdasarkan penelitian para arkeolog kredibel.
Mengapa Ini Penting?
Langkah pemugaran ini diambil untuk menghentikan spekulasi liar yang justru sering menutupi nilai sejarah asli dari situs ini. Pemprov Jabar berharap, dengan wajah baru yang lebih tertata, Gunung Padang bisa menjadi destinasi wisata sejarah kelas dunia yang tetap terjaga keasliannya.
"Tujuan kita adalah mewariskan situs ini kepada generasi mendatang dalam kondisi yang utuh dan dipahami berdasarkan fakta ilmiah, bukan sekadar mitos."
(Red).


