Menjemu Pemudik dengan Kehangatan "Cingu": Tradisi Manis dari Dapur Hawu Cicangkang Girang


 SINDANGKERTA, BANDUNG BARAT – Riuh rendah suara tawa dan aroma kayu bakar menyeruak dari sebuah dapur sederhana di Kampung Cicangkang, Desa Cicangkang Girang. Hari ini, Selasa (24/3), suasana di pemukiman RT 01/04 tampak berbeda. Ribuan warga mulai memadati jalanan, menandai arus mudik Lebaran Idul Fitri 1447 H telah tiba di kampung halaman.

​Namun, di balik hiruk-pikuk kedatangan para perantau, ada satu tradisi unik yang tetap terjaga di sela-sela status Sindangkerta sebagai penghasil Wajit. Di sini, para ibu berkumpul di depan hawu (tungku tradisional) bukan sekadar untuk memasak, melainkan untuk merajut silaturahmi melalui pembuatan Cingu—akronim dari Aci jeung Sangu.

​Kudapan Khas yang Bikin Rindu

​Cingu adalah kerupuk legendaris berbahan dasar tepung tapioka (aci) dan nasi (sangu). Di tangan terampil Ibu Lilis dan rekan-rekannya, adonan putih tersebut dibentuk dengan telaten sebelum digoreng di atas api kayu bakar yang stabil.

​"Sengaja kami buat banyak hari ini. Ini untuk menjamu anak dan cucu yang baru pulang merantau. Selain buat camilan di sini, Cingu juga wajib jadi bekal oleh-oleh saat mereka balik ke kota nanti," ujar Ibu Lilis sambil membalik adonan di atas kuali besar.

​Simbol Kerukunan dan Adat Istiadat

​Pemandangan para orang tua yang bahu-membahu membuat Cingu ini menjadi potret nyata bahwa kekompakan di dusun ini masih sangat kental. Bukan hanya soal pemenuhan kebutuhan pangan, kegiatan ini adalah simbol keramah-tamahan dan pelestarian adat istiadat Sunda yang tak lekang oleh zaman.

​Di tengah gempuran gaya hidup modern di kota besar, Kampung Cicangkang Girang tetap menawarkan ketenangan melalui aroma asap hawu dan gurihnya Cingu. Bagi para pemudik, kudapan ini bukan sekadar makanan, melainkan "rasa pulang" yang sesungguhnya.

(Lilis).

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Total Tayangan Halaman

REDAKSI

Fakta Realita News

youtube

Translate