Gugur dalam Misi Perdamaian: Duka Mendalam bagi TNI di Lebanon Selatan


 LEBANON – Kabar duka menyelimuti tanah air. Di tengah eskalasi konflik yang kian memanas di perbatasan Lebanon-Israel, tiga putra terbaik bangsa yang tergabung dalam misi perdamaian PBB (UNIFIL) gugur dalam tugas mulia mereka.

​Kronologi Insiden Maut

​Hanya dalam waktu 24 jam, dua insiden fatal menghantam personel TNI yang berjaga di wilayah rawan tersebut:

​Minggu, 29 Maret: Praka Farizal Rhomadhon (Satgas Yonmek XXIII-S) gugur saat menjalankan ibadah salat Isya. Sebuah serangan mortir artileri dilaporkan jatuh tepat di samping masjid pos jaga di Adchit Al Qusayr.

​Senin, 30 Maret: Ledakan IED (alat peledak rakitan) di pinggir jalan dekat Bani Hayyan menghantam kendaraan patroli. Insiden ini merenggut nyawa Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan.

​Dua prajurit lainnya, Lettu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto, dilaporkan mengalami luka-luka dan saat ini sedang menjalani perawatan intensif.

​Pahlawan di Garis Biru

​Kepala Penjaga Perdamaian PBB, Jean-Pierre Lacroix, dan UNIFIL menyampaikan belasungkawa terdalam bagi para "penjaga perdamaian pemberani" ini. Sejak dibentuk pada 1978, misi UNIFIL bertujuan menjadi penyangga di "Garis Biru" (perbatasan de facto Lebanon-Israel). Namun, realita di lapangan kini kian brutal.

​Eskalasi Konflik yang Menghimpit

​Kematian para prajurit Indonesia terjadi di tengah ketegangan yang meningkat tajam:

​Pelanggaran Gencatan Senjata: Meski ada kesepakatan pada November 2024, serangan harian tetap terjadi.

​Rencana Zona Penyangga Israel: Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan rencana pembentukan zona penyangga hingga Sungai Litani (30 km dari perbatasan) dan mengancam akan meratakan desa-desa di wilayah tersebut.

​Hizbullah vs Israel: Saling balas serangan roket dan serangan udara terus berlanjut, menempatkan pasukan penjaga perdamaian di posisi yang sangat berbahaya.

​Penghormatan Terakhir

​Pemerintah RI melalui TNI terus berkoordinasi dengan PBB untuk memastikan perlindungan bagi personel yang tersisa dan menginvestigasi secara mendalam sumber serangan tersebut. Pengorbanan ketiga prajurit ini menjadi pengingat keras akan tingginya harga yang harus dibayar demi perdamaian dunia.

​Rilis Berita: 2 April 2026

Sumber: Diolah dari Laporan UNIFIL, Pernyataan Markas Besar PBB, dan Keterangan Brigif 25/Siwah.

(Red).

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Total Tayangan Halaman

REDAKSI

Fakta Realita News

youtube

Translate