BATUJAJAR, 2 MEI 2026 – Kesabaran warga Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, nampaknya sudah mencapai titik nadir. Menanggapi kondisi infrastruktur yang kian memprihatinkan, gelombang protes warga kembali mencuat akibat jalan raya utama yang kini lebih menyerupai "kubangan kerbau" daripada akses transportasi publik.
Janji Manis yang Tergerus Hujan
Kondisi jalan yang hancur lebur di kawasan Batujajar ini sebenarnya bukan cerita baru. Namun, absennya tindakan nyata dari pihak berwenang di tengah cuaca ekstrem belakangan ini membuat warga geram. Kerusakan jalan tidak hanya menghambat mobilitas ekonomi, tetapi juga telah memakan korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas yang terus berulang.
"Kami bosan hanya diberi janji. Setiap hari kami bertaruh nyawa di jalan ini. Kalau tidak berdebu saat panas, ya jadi kolam pancing saat hujan. Mana tanggung jawab pemerintah?" ujar salah satu warga yang terlibat dalam aksi protes.
Dampak Nyata di Lapangan
Kerusakan ini memberikan efek domino yang merugikan berbagai sektor:
Risiko Keselamatan: Peningkatan angka kecelakaan pengendara motor, terutama pada malam hari karena minimnya penerangan.
Lumpuhnya Ekonomi Lokal: Truk logistik dan kendaraan warga mengalami kerusakan komponen (sparepart) yang mempercepat biaya pengeluaran.
Kesehatan: Polusi debu yang pekat di saat cuaca terik mulai memicu gangguan pernapasan bagi warga di pinggir jalan.
Tuntutan Warga: Aksi Nyata, Bukan Sekadar Tambal Sulam
Masyarakat Batujajar menuntut pemerintah daerah untuk segera melakukan betonisasi permanen, bukan sekadar tambal sulam yang akan kembali hancur dalam hitungan minggu. Jika dalam waktu dekat tidak ada alat berat yang turun ke lokasi, warga mengancam akan melakukan aksi yang lebih besar, termasuk penutupan jalan total sebagai bentuk protes.
Sumber Media:
Divisi Informasi Forum Warga Batujajar Peduli
Situs Web: www.detik.com/jabar
Tentang Kondisi Jalan Batujajar
Jalan Batujajar merupakan urat nadi penghubung industri dan pemukiman di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Selama beberapa tahun terakhir, jalan ini mengalami degradasi kualitas yang signifikan akibat beban kendaraan berat dan sistem drainase yang buruk.
(Red).
