Bukan Tiup Lilin, Kang Dedi Mulyadi Pilih Nyalakan Cahaya Abadi di Hari Milangkala


 PURWAKARTA, 12 April 2026 – Di saat kebanyakan orang merayakan pertambahan usia dengan pesta dan kemeriahan, tokoh pemimpin Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, memilih jalan yang berbeda. Dalam peringatan hari ulang tahunnya atau yang akrab disebut Milangkala, Kang Dedi menyampaikan pesan reflektif yang menyentuh hati tentang makna kehidupan, pengabdian, dan cinta kepada Ibu.

​Cahaya yang Tak Boleh Padam

Dalam sebuah prosesi yang khidmat dan kental dengan nuansa budaya, Kang Dedi menegaskan keputusannya untuk tidak melakukan tradisi tiup lilin. “Malam hari ini saya tidak meniup lilin, karena saya mau tidak ada kematian dalam lilin. Cahaya harus terus bersinar dalam setiap waktu,” ujarnya penuh makna. Baginya, setiap detik usia adalah tentang bagaimana menjaga api semangat dan kebaikan agar tetap menyala bagi sesama.

​Guru dari Segala Guru: Ibu dan Rakyat

Momen Milangkala ini juga menjadi bentuk penghormatan tertinggi Kang Dedi kepada sosok Ibu. Ia menyebut Ibu sebagai sosok yang mampu menempa anak desa hingga bisa berdiri kokoh meski tanpa pemahaman angka dan aksara yang formal.

​“Belajarlah hidup dari Ibu, karena dia adalah guru dari semua guru,” pesan Kang Dedi. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan cinta kepada Ibu sebagai jalan hidup ke depan, yang kemudian diwujudkan dalam pengabdian kepada rakyat. Sebagai pemimpin, ia merasa ditakdirkan untuk membangun generasi yang kokoh dan kuat.

​Filosofi Kesendirian dan Keteguhan

Kang Dedi juga berbagi sisi personalnya mengenai gaya kepemimpinannya yang seringkali terlihat "berjalan sendiri". Ia mengungkapkan bahwa keputusan-keputusan besar dan kearifan seringkali lahir dalam kesendirian dan kemurnian hati, bukan di tengah kerumunan yang sekadar mencari kuasa.

​“Sahabat yang baik adalah sahabat yang datang ketika sahabatnya dalam susah, bukan datang ketika sahabatnya dalam kuasa,” tegasnya, mengingatkan pentingnya loyalitas dan ketulusan dalam hubungan antarmanusia.

​Menerima Takdir dengan Cinta

Menutup pesannya, Kang Dedi mengajak semua orang untuk berhenti berebut hal-hal duniawi dan mulai menerima takdir Tuhan dengan lapang dada. Menurutnya, hidup sudah memiliki takaran dan ukurannya masing-masing. Tugas manusia hanyalah menjalani dan menerima apa adanya dengan penuh rasa syukur.

​Acara yang berlangsung dengan penuh haru ini dihadiri oleh para sahabat lama dan masyarakat yang telah menemani perjalanan Kang Dedi sejak ia "bukan siapa-siapa". Milangkala kali ini bukan sekadar perayaan angka, melainkan sebuah pengingat bahwa hidup adalah tentang seberapa lama kita bisa menjadi cahaya bagi orang lain.

​Tentang Kang Dedi Mulyadi:

Dedi Mulyadi adalah sosok pemimpin yang dikenal dengan pendekatan budayanya dan keberpihakannya pada masyarakat kecil. Ia terus konsisten menyuarakan nilai-nilai kearifan lokal dalam setiap langkah pengabdiannya.


(Red).

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Total Tayangan Halaman

REDAKSI

Fakta Realita News

youtube

Translate